BOJONEGORO — Ledre menjadi pusat pertemuan warga di Purwosari, Bojonegoro, pada Kamis malam, 8 Oktober 2026. Dalam laporan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang terbit 9 Oktober, festival ini melibatkan 59 perajin dalam pembuatan ledre bersama dan 40 UMKM pada bazar.
Ruang temu produsen dan warga
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Jadi Bojonegoro ke-349. Camat Purwosari Ike Widyaningrum menjelaskan bahwa kecamatannya memiliki banyak produsen ledre. Festival dipakai sebagai ruang memperkenalkan produk dan menjaga keberlanjutan keterampilan pembuatannya.
Keterampilan dikenalkan kepada pelajar
Rangkaian kegiatannya tidak berhenti pada malam bazar. Pada 5 Oktober, pelatihan di Balai Desa Gapluk diikuti 22 peserta. Dua hari kemudian, siswa SMK Purwosari mengikuti lokakarya pembuatan ledre. Urutan ini memperlihatkan jalur pertemuan antara pelaku usaha dan calon penerus keterampilan lokal.
Ledre dikenal sebagai kudapan berbahan pisang yang berbentuk gulungan tipis. Laporan pemerintah daerah menyebut variasi ukuran dan rasa ikut diperkenalkan. Bagi pengunjung, produk semacam ini bisa dibaca sebagai hasil keterampilan mengolah bahan, bukan hanya barang yang dibawa pulang.
Keramaian belum sama dengan dampak ekonomi
Jumlah peserta bazar dan perajin menunjukkan skala keikutsertaan pada acara tersebut. Namun, sumber belum menyajikan data transaksi atau perubahan pendapatan sesudah festival. Karena itu, dampak ekonomi jangka panjang belum dapat disimpulkan dari keramaian kegiatan saja.
Pemberitaan BeritaBojonegoro mencatat Wakil Bupati Nurul Azizah membuka acara di lapangan Kecamatan Purwosari. Bagi pembaca yang baru mengetahui agendanya, festival yang diberitakan berlangsung 8 Oktober; artikel ini bukan undangan untuk datang ke acara yang masih berjalan.
Berita lain di rubrik Kuliner